Festival Dai Nasional 2026, Kiai Junaidi Ajak Santri Jadi Solusi di Tengah Masyaraka
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah, KH. A. Junaidi Hidayat, memberikan pesan “pedas” namun bermakna bagi para calon pendakwah masa kini. Beliau mengingatkan bahwa tugas seorang dai bukan sekadar memuaskan selera pasar dengan candaan, melainkan menaikkan kelas pemahaman agama masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Junaidi saat mengisi Mauidzah Hasanah dalam malam puncak Lailatul Da’wah Festival Dai Nasional di Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (15/1/2026).
Alumni senior Pesantren Tebuireng ini menegaskan bahwa kepintaran intelektual tidak akan berarti banyak jika seorang santri gagap menghadapi realitas sosial. Menurutnya, pesantren harus bertransformasi menjadi “Madrasah Kehidupan”.
“Menjadi santri itu tidak cukup hanya pintar saja. Harus punya kemampuan memahami kehidupan dan tuntutan masyarakat,” tegas Kiai Junaidi di depan para santri dan panitia dari Kumpulan Dai Tebuireng (Kudaireng).
Ia mewanti-wanti agar santri tidak terjebak pada formalitas akademik semata. “Pesantren jangan hanya sekadar mengkaji kitab atau mencari gelar, tapi harus mampu memahami masyarakat secara utuh,” tambahnya.
Kiai Junaidi juga menyoroti tren dakwah saat ini yang dinilainya mulai melenceng dari esensi edukasi. Beliau melihat banyak dai yang lebih asyik mengikuti kemauan pasar—yang didominasi hiburan—sehingga muatan ilmunya justru hilang.
“Problem kita sekarang, pidato atau pengajian kita belum memberikan keilmuan yang cukup bagi masyarakat. Lebih banyak ‘ngajinya’ (hiburannya) daripada kajian ilmunya,” kritiknya.
Akibatnya, pemahaman agama masyarakat cenderung jalan di tempat. Beliau menyarankan agar dakwah dibagi menjadi dua fokus, yaitu berupa syiar untuk membangun semangat dan kekuatan Islam di masyarakat. Kemudian kajian rutin dengan mengisi ilmu di musala atau masjid guna mencerdaskan umat.
Menutup pesannya, Kiai Junaidi berharap Tebuireng terus konsisten mencetak kader dai dan khatib yang mumpuni. Menurutnya, modal utama seorang pendakwah adalah penguasaan ilmu agama yang mendalam, bukan sekadar kelincahan lidah saat berpidato.
“Ilmu itu kata kunci. Jadi dai harus serius, bukan sekadar bisa bicara saja,” pungkasnya.
